Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Sumarno Adi Subrata - Thursday, 10 April 2008, 01:45 AM
 

Hukum meminta do’a kepada orang lain

 Setiap manusia yang hidup di dunia ini tentu mempunyai kebutuhan. Dan kebutuhan manusia terbagi menjadi dua kebutuhan yaitu jasmani dan rohani. Kebutuhan jasmani yaitu sebuah kebutuhan jasad dimana setiap manusia di haruskan untuk memenuhinya karena jika tidak maka akan terjadi berbagai macam gangguan yang ada di dalamnya. Contohnya, jika anda tidak makan maka anda akan lapar dan lemas bahkan tidak menutup kemungkinan anda bisa sakit, jika anda tidak minum maka anda akan haus dan sebagian pakar mengatakan bahwa rasa haus yang dibiarkan terlalu lama tidak baik bagi ginjal, jika anda tidak istirahat maka tubuh anda akan terasa lelah karena tenaga anda terus di gunakan, jika anda tidak memenuhi kebutuhan seksual anda (tentunya di jalan yang halal yaitu dengan suami atau isteri) maka anda akan merasakan sesuatu yang mendekam dalam diri anda yang seharusnya anda keluarkan karena hubungan seksual yang halal akan menjadi mitra kesehatan yang baik bagi anda dan sebaliknya hubungan seksual di jalan yang haram akan menjadi mitra yang buruk bagi anda karena anda bisa mendapatkan 2 hal yaitu aib dan dosa kemudian berbagai macam contoh kebutuhan jasmani lainnya yang kami yakin di fakultas ini banyak orang yang telah mengetahui kebutuhan jasmani.

Kemudian yang kedua yaitu kebutuhan rohani. Kebutuhan rohani adalah kebutuhan dimana anda harus mengisi jiwa anda dengan sesuatu yang telah di bebankan Alloh kepada anda yaitu beribadah hanya kepada Alloh. Contohnya sholat, berpuasa, haji, zakat, berdo’a, tawakal, rasa berharap, rasa takut dan berbagai macam peribadahan lainnya. Diantara sekian banyak ibadah itu adalah do’a. Sebagaimana sabda Rosululloh Shalallahu’ Alaihi Wa Sallam bahwa “Do’a adalah ibadah” (Hadist Shahih Riwayat Abu Daud dan yang selainnya).

Dari ibadah ini ada satu fenomena menarik yang hanya muncul dalam ibadah ini diantara satu muslim dengan muslim yang lainnya yaitu mereka saling meminta do’a jika akan menghadapi suatu keadaan. Misalnya ketika akan ujian seorang berkata kepada temannya “Tolong do’akan saya biar sukses!”. Kemudian bagaimana tanggapan islam tentang fenomena ini?? Apakah islam memperbolehkan meminta do’a kepada orang lain atau tidak??. Maka dalam permasalahan ini ada beberapa perinciannya penting yang harus di pahami:

1.  Jika anda hendak meminta do’a dari orang lain dengan tujuan kepentingan orang lain itu yakni agar orang itu mendapatkan pahala karena mendo’akan saudaranya atau agar Alloh mengabulkan do’anya, karena jika seseorang berdo’a bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu maka malaikat akan mengamininya,sehingga andapun mendapatkan pahala itu. Maka dalam ini hukumnya boleh atau mubah atau mengandung pilihan bagi anda yaitu anda boleh melakukannya atau anda boleh meninggalkannya.

Contohnya, anda meminta do’a kepada sahabat anda dengan niatan agar sahabat anda mendapat pahala karena mendo’akan anda.

2. Jika anda meminta do’a kepada orang lain untuk kemanfaatan orang banyak dan yang ini hukumnya juga boleh.

Contohnya, “ya fulan, tolong do’akan agar negeri ini terhindar dari bencana yang terus menerus” atau “ya saudaraku, tolong do’akan kampung kami agar selalu di berkahi oleh Alloh” atau “ya sahabatku, tolong do’akan agar teman-teman angkatan kami lulus dalam ujian mata kuliah ini” dll.

3. Namun, Jika anda meminta do’a kepada orang lain untuk kepentingan pribadi anda atau untuk individu anda sendiri maka ini hukumnya makruh. Artinya, permintaan tsb adalah permintaan yang tercela atau di benci. Dan ini pendapatnya Imam asy Syafi’i.

Contohnya, ketika anda akan menghadapi ujian kemudian anda mengatakan kepada teman anda seperti ini “Tolong do’akan saya ya?” maka menurut pendapat Imam asy Syafi’i perbuatan anda ini tercela dan di benci.

Sekilas tentang hukum makruh….

Sebagaimana telah di tetapkan dalam ilmu ushul fiqih (dasar – dasar fiqih), bahwa semua hukum perbuatan dan perkataan manusia yang masuk dalam kategori larangan ada 2 yaitu:

a. Makruh : jika anda melakukan sesuatu tsb maka tidak ada dosa bagi anda namun jika anda meninggalkannya maka itu lebih baik bagi anda. Karena diantara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak penting baginya.

Contohnya; meminta do’a kepada orang lain, mempersilahkan orang lain untuk mengisi shof pertama dalam sholat sedangkan anda malah berada di shof yang kedua dan perkara-perkara makruh lainnya.

b. Haram : jika anda melakukan sesuatu tsb maka anda akan mendapatkan dosa dan jika anda meninggalkannya maka anda akan mendapatkan pahala.

Contohnya; berjudi, mencuri, menyontek, minum khamr, membuang sampah sembarangan di jalan sehingga di khawatirkan membuat orang lain terluka dan perkara-perkara haram lainnya.

Jadi sekarang telah jelaslah permasalahannya bagaimana hukum meminta do’a kepada orang lain. Dan satu faedah besar yang bisa kita petik dari sini adalah bahwa segala perbuatan seseorang yang di niatkan untuk kepentingan dirinya sendiri dan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain maka hal ini di benci dan tercela atau dengan kalimat yang singkat “Bahwa islam sangat menyukai urusan yang mengandung kemaslahatan umum”.

Semoga Alloh senantiasa memberikan petunjuk kepada kami dan anda.

Alhamdulillaahi Rabbil ‘Aalamiin.

Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Esti Wijayanti-0732031 - Thursday, 10 April 2008, 04:20 AM
  alhamdullilah. setelah saya membaca artikel ini, semoga saya dapat bertambah ilmu... amin
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Luhur Budi Adhiapto - Thursday, 10 April 2008, 09:17 AM
  Mas...klo minta Doa dari orang tua untuk kita sendiri gmn????Apa sebaiknya ga usah azza byar dapet pahala??Sedangkan hubungan anak dan ortu kan amat sangat dekat sekali...........
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Gagah Buana Putra - Thursday, 10 April 2008, 12:27 PM
 

Betul, doa sendiri aja kenapa?

Allah MAHA mendengar~! Allahuakbar!

minta doa orang lain ya cari yg hubungan keluarga, misalnya orang tua terutama Ibu orang yang melahirkan kita. Lebih bermanfaat. Minimal dapet ridho dari orang tua.

Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Muhammad Iqbal-0732092 - Friday, 11 April 2008, 03:13 AM
  subhanallah sekali,
memang kita harus rajin berdo'a karena allah sangat menyayangi hamba-hambanya yang selalu mengingatNya,jangan lupa kita mendo'akan orang tua yang telah membesarkan kita,allahu akbar,allah akbar,allah akbar,
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Sumarno Adi Subrata - Thursday, 17 April 2008, 01:48 AM
  meminta do'a dari orang tua?? maka hukumnya kembali kepada perkataannya imam syafi'i yaitu makruh. Perlu diingat bahwa perbuatan tsb tidak mencapai derajat haram namun mencapai derajat larangan. Artinya anda melakukannya tidak apa-apa anda tidak mendapat dosa (Insya Alloh) namun lebih baik anda tidak melakukannnya. karena tanpa di mintapun orang tua kita Alhamdulillaah sudah sering mendo'akan kita jadi anda tidak perlu lagi untuk menekankan kepada orang tua bahwa anda minta di do'akan.

Inilah yang bisa saya kaitkan atau kompromikan atau hubungkan antara permintaan anda dengan perkataan imam syafi'i.

Wallahua'lam

Alhamdulillaah.
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Mika Kresna Prasetya - Thursday, 17 April 2008, 03:13 AM
  iya.. lagian itu kan udah otomatis didoain.. lha wong anake dhewe..
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Gagah Buana Putra - Saturday, 19 April 2008, 06:24 AM
  setuju~!
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Luhur Budi Adhiapto - Friday, 18 April 2008, 03:12 AM
  Nah..klo Ortunya Non-islam...GMN????
N jangan picik lho klo smua ortu tu mendoakan anaknya.....ya beruntunglah orang yg didoakan ortu,tp pst ada ortu yg ga gt....Smoga c ga ada...he_...amien...
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Mika Kresna Prasetya - Monday, 21 April 2008, 12:42 PM
  eh jangan berprasangka kayak gitu.. kalo masalah doa mendoakan seh besok kalo kita2 udah punya anak masing2 pasti akan ngerasain deh.. dalam hati orang sapa yang tau..

sel hepar kaleee..
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Yudha Prasetya - Monday, 21 April 2008, 06:11 PM
 

Hmm...., cuma mo nanya aja:

1. kalo minta doa ama anak yatim gmn? coz prnah denger ada yg mmperbolehkan.

2. kalo org mo naik haji pasti ada yg nitip doa ama yg mo brngkt haji, lha itu jg gmn?

oh iya, tlng jg dibahas gimana caranya mempelajari hadist atau pendapat imam krn saking bnyknya hadist dan pendapat imam kadang hukumnya beda2x. Jd buat pedoman yg mana? (maklum...masih belajar) 

Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Luhur Budi Adhiapto - Wednesday, 23 April 2008, 07:19 AM
  Yng prasangka sp....????Nyata kok.....ya Km,mik n qt smua  bersyukur klo ga gt............Tlong jwb dunk....he_
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Mika Kresna Prasetya - Wednesday, 23 April 2008, 02:05 PM
  kalo mw reply ketempat orang tuh dikotakna yang mw lo reply ga dibawahna.. jadi ga nyambung gitu omonganna.. wah ternyata dia novice juga.. padahal jam terbangna tinggi loh.. ckckckck...
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Luhur Budi Adhiapto - Thursday, 24 April 2008, 04:26 AM
  Nggih Om...tp insyaAllah paham lah....
Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Sumarno Adi Subrata - Saturday, 26 April 2008, 03:29 AM
 

Maaf tulisannya cukup panjang jadi mohon membacanya yang pelan agar bisa di pahami dengan benar.

Kalo minta doa ama anak yatim gmn? coz prnah denger ada yg memperbolehkan...

Sekilas tentang anak yatim...

Anak yatim adalah seorang anak yang ayahnya telah meninggal dunia dan jika yang meninggal dunia adalah ibunya maka dia tidak di sebut anak yatim.

Kemudian sampai kapan dia mendapat predikat anak yatim?? Maka jawabnya yaitu sampai dia baligh. Jadi, Jika dia laki-laki maka sejak dia mengalami mimpi basah untuk yang pertama kalinya maka predikat yatim hilang darinya sedangkan bagi perempuan yaitu sejak dia menstruasi untuk yang pertama kalinya.

Kemudian tanggapan dari pertanyaan anda...

Iya, pertanyaan anda tepat dan benar namun ada point penting dan saya menjelaskannya dari 2 sisi:

1. Memang benar boleh akan tetapi hal itu berlaku di zamannya Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam. Saat itu ada hamba Alloh yang namanya Uwais Al Qorni, dia seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya kemudian Alloh Ta’ala hendak mengangkat derajatnya di dunia sebelum memberikan ganjarannya yang banyak dan hakiki di akhirat. Perlu anda ketahui bahwa di zaman beliau ada banyak sahabat yang lebih mulia dari Uwais seperti Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallohu anhu. Ada sebuah riwayat bahwa Abu Bakar adalah orang yang terbaik setelah Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam. Namun beliau tidak menyuruh para sahabat untuk meminta untuk didoakan oleh Abu Bakar dan bukan berarti Abu Bakar tidak berbakti kepada Ibunya. Bahkan seluruh sahabat berbakti kepada orang tuanya karena mustahil mereka mendapat ucapan radhiyaallohu anhum (artinya: semoga Alloh meridhoi mereka) sedangkan mereka durhaka kepada orang tua. Jadi kenapa Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam mengkhususkan kepada Uwais untuk di mintai do’a karena :

a. Uwais sangat berbakti kepada ibunya.

b. Ada faktor lain yang dikhususkannya Uwais untuk di mintai do’a yang hanya di ketahui Alloh Ta’ala dan Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam.

Jadi pada zaman Beliau Shollallohu Alaihi Wa Sallam hanya ada 2 orang yang bisa di mintai do’a yaitu :

a. Beliau Shollallohu Alaihi Wa Sallam sendiri dan

b. Uwais Al Qorni

Dan selain keduanya Beliau Shollallohu Alaihi Wa Sallam tidak pernah menyuruh para sahabatnya untuk meminta do’a kepada orang lain. Allohua’lam (Alloh-lah yang lebih mengetahui).

Dan bisa jadi dari kabar yang anda nukil bahwa di perbolehkannya meminta do’a dari orang lain maka dia (yang berpendapat boleh) mempunyai kemungkinan berdalil dengan hadist ini :

Dari Umar bin Khoththob radhiyaallohu anhu berkata : “Saya meminta izin kepada Nabi Shollallohu Alaihi Wa Sallam untuk pergi melakukan umroh. Beliau mengizinkan saya lalu bersabda ’Wahai saudaraku, jangan kau lupakan kami dalam do’amu’”. Umar berkata :”Sungguh, itulah kata-kata yang lebih menyenangkan diriku daripada sekiranya aku diberikan seluruh kenikmatan dunia.” Dalam riwayat lain “Wahai saudaraku, sertakanlah kami dalam doamu”. (Hadist Riwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi). Namun sayangnya hadist ini dho’if atau lemah jadi tidak bisa di jadikan sandaran atau alasan untuk di perbolehkannya meminta do’a kepada orang lain (untuk kepentingannya sendiri). Allohua’lam.

2. Iya diperbolehkan meminta do’a kepada anak yatim asalkan memenuhi beberapa syarat yang sangat ketat. Diantaranya:

a. Dia seorang muslim dan mukmin

b. Istiqomah diatas Petunjuk Al Qur’an dan petunjuk Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam

c. Bertauhid kepada Alloh dan tidak berbuat syirik

d. Dia bukan seseorang yang melakukan bid’ah

e. Dia dikenal sholeh, jujur, berakhlak mulia oleh masyarakat sekitar

f. Dia tidak dikenal fasik atau durhaka kepada perintah Alloh dan RosulNya dan

g. Do’anya tidak untuk kepentingan anda sendiri akan tetapi untuk kepentingan oang banyak. Jika si yatim tsb telah memenuhi syarat dari a – f akan tetapi anda tetap meminta do’a untuk kepentingan anda sendiri maka permintaan anda tetap makruh atau tercela atau dibenci. Hal ini berdasarkan pendapat Imam asy Syafi’i rahimahulloh (semoga Alloh merahmatinya).

Adapun jika anda saat jalan-jalan kemudian anda sampai di perempatan jalan dan bertemu dengan anak-anak yatim dijalanan lalu anda mengatakan “Do’akan saya ya!!” maka anda bisa ditertawakan oleh mereka atau oleh teman-teman anda bahkan perbuatan ini bisa di katakan aneh dan nyleneh. Mana mungkin orang seperti mereka yang belum jelas apakah taat atau tidak kepada Alloh dan RosulNya dimintai do’a?? Coba anda bandingkan dengan hal ini !! Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam saja tidak memerintahkan para sahabatnya untuk meminta do’a kepada orang lain. Bagaimana mungkin ada orang yang berakal meminta dido’akan oleh orang yang sangat jauh sekali keadaannya dibanding para sahabat beliau Shollallohu Alaihi Wa Sallam?? Ini Mustahil.

Kalo org mo naik haji pasti ada yg nitip doa ama yg mo brngkt haji, lha itu jg gmn?

Iya, kami juga sering menemui sebagian saudara – saudara kami yang muslim yang melakukannya. Mereka sering berkata kepada seseorang yang hendak naik haji “pakde atau bude kalo dah sampai arab do’akan saya ya!!”, dll. Kembali ke pendapatnya Imam asy Syafi’i, bahwa meminta do’a kepada orang lain untuk kepentingan pribadi adalah makruh atau tercela atau dibenci namun tidak mencapai derajat haram dan tidak mendapat dosa pelakunya namun lebih baik baginya untuk meninggalkan perbuatan tsb karena perbuatan tsb masuk dalam kategori larangan. Pendapat ini (yaitu makruh meminta do’a untuk kepentingan diri sendiri) banyak di ambil oleh para ulama.

Sekarang kenapa kita tidak meminta do’a kepada orang yang naik haji untuk kemanfaatan bersama saja?? Semisal minta dido’akan agar Indonesia di bebaskan dari bencana atau agar kampus UMY selalu di rahmati dan diberkahi Alloh atau agar angkatan kami dan anda lulus dalam setiap ujian mata kuliah dengan hasil terbaik. Perbuatan ini justru mulia dan diperbolehkan. Satu hal yang mungkin anda lewatkan bahwa “Di dalam permintaan do’a tsb permintaan anda sudah termasuk!!!”. Jadi untuk apa kita mementingkan kepentingan diri sendiri ketika berdoa?...

Dilaen sisi anda juga harus memperhatikan betul-betul oleh orang yang hendak naik haji tsb atau orang yang akan anda mintai do’a. Pertimbangkanlah beberapa hal dibawah ini:

a. Apakah dia orang yang bertauhid kepada Alloh?

b. Apakah dia berbuat syirik dalam ibadah kesehariannya? Semisal pergi kedukun, berdo’a kepada penghuni kubur, memasang jimat atau pelaris atau pelet, memasang sesajen.

c. Apakah dia berbuat bid’ah?

d. Apakah dia dikenal baik akhlaknya dan sholeh oleh masyarakat?

e. Apakah dia diatas petunjuk Qur’an dan petunjuk Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam?

Dan jika orang yang naek haji itu dikenal bertauhid kepada Alloh, tidak berbuat syirik, tidak melakukan bid’ah, dikenal baek dan sholeh oleh masyarakat, taat kepada Alloh dan RosulNya dan istiqomah di atas Qur’an dan sunnah. Maka, silahkan meminta do’a kepadanya asalkan untuk kepentingan bersama bukan untuk kepentingan anda sendiri. Allahua’lam.

Oh iya, tlng jg dibahas gimana caranya mempelajari hadist atau pendapat imam krn saking bnyknya hadist dan pendapat imam kadang hukumnya beda2x. Jd buat pedoman yg mana? (maklum...masih belajar)...

Bagaimana mempelajari hadist?? Maka saran saya:

1. Pelajarilah dan mulailah menghafal dahulu kitab-kitab hadist yang pendek atau sedikit isinya beserta syarah (penjelasan) para ulama sebelum anda mempelajari kitab-kitab hadist yang besar yang pembahasannya luas (contohnya, Fathul Baari Syarah Shohih Bukhori, Syarah Shohih Muslim, dll). Kitab-kitab hadist yang pendek misalnya :

a. Kitab Arbai’in an Nawawi (1 jilid)

Di dalamnya terdapat 42 hadits-hadits dasar tentang Aqidah, Ibadah dan akhlak. Diantara kitab syarah terbaik dan ringkas yang sering saya muroja’ah (pelajari secara berulang) adalah terbitan Darul Haq. Kitab tsb disyarah oleh empat ulama diantaranya Imam Nawawi sendiri (si penulis). Tebalnya sekitar 1,5 ruas jari kelingking anda.

b. Kitab Umdatul Ahkam (1 jilid)

Didalamnya terdapat 420 hadits yang berhubungan dengan fiqih seperti Thoharoh (bersuci), sholat, haji, puasa, dll. Kitab tsb berisi hadist-hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Jadi semua hadist di dalamnya shohih. Namun sebelum anda mempelajari syarahnya saya sarankan anda untuk membaca matan haditsnya terlebh dahulu karena itu lebih ringan.

Kemudian setelah anda paham dan mengerti isi hadits, maka boleh bagi anda untuk mulai membaca syarahnya dan penjelasan terbaik yang biasa saya muroja’ah adalah Taisirul Allam Syarah Umdatul Ahkam terbitan Darul Falah. Tebalnya kurang lebih 3 ruas jari kelingking anda dan perlu anda perhatikan bahwa di dalam kitab syarah ini si penulis banyak mencantumkan perbedaan pendapat dikalangan para ulama jadi jika anda belum terbiasa maka anda bisa bingung. Jadi saya tekankan kembali untuk mempelajari betul-betul matan haditsya terlebih dahulu sebelum anda membaca syarahnya. (Oya, matan hadits adalah kalimat yang tertulis dalam sebuah hadits atau isi hadits tsb).

Dan termasuk sikap ketergesa-gesaan jika ada seseorang yang belum paham akan matan hadits lantas dia memberanikan diri untuk membaca syarahnya. Di satu sisi hal itu tidaklah mengapa maksudnya ketika tidak muncul perbedaan pendapat dikalangan ulama namun ketika dia membaca perbedaan pendapat ulama maka dia tidak akan mampu memilihnya. Hal itu diibaratkan bahwa ada seseorang yang akan menaiki tangga sedangkan diawal pijakannya dipunggungnya sudah terbebani 10 karung besar beras. Maka dia tidak akan mampu untuk naik ketangga berikutnya.

c. Kitab Al Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziz (1 jilid)

Kitab ini sudah diterjemahkan dengan judul “Al Wajiz - Panduan fiqih lengkap” terbitan Ibnu Katsir. Kitab tsb berisi bab Fiqih. Didalamnya ada ratusan hadist dan sangat baik bagi kita yang masih belajar karena dalam kitab tsb pembahasannya ringkas dan langsung menuju kepada inti permasalahan. Tebalnya kurang lebih 3 ruas jari kelingking anda.

2. Disamping mempelajari hadits, saya juga menyarankan kepada anda untuk mempelajari kitab-kitab Aqidah yang pendek. Diantaranya yang sering kami muroja’ah adalah:

a. Syarah 3 landasan utama karya Syaikh Muhammad al Utsaimin (1 jilid)

Kitab tsb berisi penjelasan atau kisi-kisi pertanyaan yang kelak akan ditanyakan di alam kubur nanti. Kitab ini termasuk pembahasan terbaik, sangat ringkas, menarik, mudah dipahami dan bagus untuk di muroja’ah. Tebalnya kurang lebih 1 ruas jari kelingking anda.

b. Al Qoulul Mufiid Syarah Ala Kitabut Tauhid karya Syaikh Muhammad al Utsaimin

Kitab ini berisi tentang dakwah pertama para Rosul yaitu mentauhidkan Alloh serta menjauhi Syirik. Didalamnya anda juga akan mendapatkan bagaimana hukum sihir, ilmu perbintangan, dll. Kitab ini terdiri dari 2 jilid dan jika di gabung tebalnya kurang lebih 1 ruas jari telunjuk anda. Terbitan Darul Falah.

c. Syarah al Waajibaat karya Syaikh Ibrohim al Khuraishi

Kitab ini berisi tentang hal-hal yang wajib diketahui oleh setiap muslim dan muslimah. Terjemahannya “Penjelasan hal-hal yang wajib diketahui” dari Pustaka Imam Syafi’i. Kitab yang bagus, ringkas dan berfaedah ( 1jilid).

Sebenarnya penjelasan tentang kitab hadits dan bagaimana berinteraksi dengannya akan menghasilkan diskusi yang sangat panjang sekali. Namun beberapa kitab yang di atas adalah sebagai pijakan awal sebelum anda beranjak mendaki untuk mempelajari kitab-kitab besar yang berjilid banyak lainnya.

Bagaimana menghadapi berbagai macam pendapat imam yang terkadang mereka saling berbeda pendapat dalam menentukan sebuah hukum???

Alhamdulillaah dan Permasalahan yang memunculkan berbagai macam perbedaan pendapat di kalangan para ulama adalah hasil ijtihad mereka dan memang mereka berijtihad dimana mereka diperbolehkan berijtihad didalamnya dan biasanya dalam masalah fiqih. Ijtihad adalah mengerahkan segenap pikiran atau kemampuan untuk menentukan sebuah hukum dalam permasalahan syari’at dan orang yang yang berijtihad namanya mujtahid.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama di bagi 2 yaitu:

1. Perbedaan pendapat yang lemah. Maksudnya, pendapat yang satu lemah dan yang satunya kuat. Jadi dalam menghadapi perselisihan yang demikian kita harus mengambil pendapat yang kuat dan ini cukup mudah.

Contoh:

- Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa khamr adalah minuman yang terbuat dari anggur yang bisa memabukkan. Pendapatnya ini lemah dan menyelisihi pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Jumhur ulama menjelaskan bahwa khamr adalah semua minuman yang memabukkan. Jadi pendapat Abu Hanifah tertolak dan tidak bisa kita ambil dan yang kita ambil adalah pendapatnya jumhur ulama.

- Dan contoh-contoh lainnya.

2. Perbedaan pendapat yang kuat. Maksudnya, pendapatnya sama-sama kuat atau pendapat yang satu kuat dan pendapat yang satunya juga kuat. Jadi dalam permasalahan ini kita bisa memilih satu dari 2 pendapat yang ada karena keduanya sama-sama kuat dan ini mudah sekali.

Contohnya:

- Ketika duduk tasyahud apakah jari telunjuk bergerak-gerak atau tidak? Maka dalam kasus ini para ulama mempunyai pendapat yang sama-sama kuat. Jadi kita bisa memilih, artinya kita bisa mengerak-gerakkan jari atau tidak menggerak-gerakkan jari. Gampangkan??...

- Ketika turun sujud apakah lutut dulu atau tangan dulu?? Maka para ulama berselisih pendapat didalamnya dan perselisihan ini kuat. Jadi kita bisa memilih, mau turun sujud lutut dulu tidak mengapa atau mau turun tangan dahulu juga tidak mengapa. Atau jika anda ingin lebih mendekati sunnah maka jika imam anda turun lutut dahulu maka ikutilah gerakan imam, dst. Dan yang ini juga gampang dan Alhamdulillaah tidak ada kesulitan di dalamnya.

Jadi kesimpulannya:

1. Kita harus berlapang dada terhadap perselisihan ulama.

2. Jika anda dihadapkan oleh perbedaan pendapat di kalangan para ulama dan anda bingung maka hukum yang berlaku bagi anda adalah bertanya kepada orang yang anda anggap tahu tentang permasalahan anda. Karena Alloh berfirman dalam surat Al Anbiyaa’ ayat 7:”Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada Mengetahui”.

Dan janganlah anda diam termenung memikirkan pendapat mana yang kuat dan mana yang lemah karena hal itu akan menghabiskan waktu dan tenaga anda. Bertanya kepada orang yang berilmu itu mudah dan tidak sulit. Dan jika anda seorang pencari kebenaran sejati maka tanyakanlah sesuatu kepada orang yang memang ahli di bidangnya dan jangan bertanya kepada orang yang tidak ahli karena nanti anda akan dihadapkan dengan jawaban-jawaban yang aneh dan nyeleneh bahkan anda bisa bingung dengan pendapatnya. Hal ini berlaku dalam segala bidang kehidupan tidak hanya dalam masalah agama saja. Seperti dalam masalah kedokteran, pertanian, teknik, dll.

Sebagaimana perkataan Ibnu Hajar al Ashqolani rahimahullah dalam kitab Fathul Baari Syarah Shohih Bukhori:”Barangsiapa yang berbicara bukan pada bidangnya, niscaya dia akan melontarkan keanehan-keanehan”.

Semoga bisa dipahami kembali

Alhamdulillaah...

Re: Hukum meminta do’a kepada orang lain
by Mika Kresna Prasetya - Sunday, 27 April 2008, 04:40 PM
  fyuuh.. panjang tenan.. pelan2 deh bacana.. biar ga bingung kayak gw.. baca lagi ahh..